Menu

Title

Subtitle

Pemahaman Aqiqah Menurut Kepercayaan Islam

February 5, 2017
Menurut bahasa ‘Aqiqah artinya: menguraikan. Asalnya dinamakan ‘Aqiqah, karena dipotongnya sosial binatang secara penyembelihan tersebut. Ada yang mengatakan jika aqiqah adalah nama untuk hewan yang disembelih, dinamakan demikian sebab lehernya dipotong Ada pula yang mengatakan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serat yang terdapat pada penyelenggara si bayi ketika ia keluar daripada rahim ibu, rambut tersebut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah ialah penyembelihan domba/kambing untuk bocah yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, / 21. Jumlahnya 2 termuda untuk balita laki-laki & 1 upaya untuk budak perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Daripada Samurah bin Jundab dia berkata: Nabi bersabda: “Semua anak bocah tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi identitas dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Dari Aisyah dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan momongan perempuan mono kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya di hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh menitahkan: “Aqiqah dijalankan karena kemunculan bayi, dipastikan sembelihlah satwa dan hilangkanlah semua huru-hara darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Dari ‘Amr bin Syu’aib daripada ayahnya, mulai kakeknya, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang serupa dan untuk perempuan satu kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW sudah ber ‘aqiqah untuk Rancak dan Husain pada hari ke-7 daripada kelahirannya, beliau memberi pamor dan mengarahkan supaya dihilangkan kotoran mulai kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, pada AI-Mustadrak surah 4, sesuatu. 264]

Bukti: Hasan dan Husain ialah cucu Nabi SAW.

Atas Fatimah binti Muhammad tatkala melahirkan Laksmi, dia berkata: Rasulullah berfirman: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan argentum kepada orang-orang miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, dan al-Baihaqi]

Dari Abu Buraidah r. a.: Aqiqah tersebut disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Menyandarkan Aqiqah Bani adalah sunnah (muakkad) cocok pendapat Imam Malik, warga Madinah, Imam Syafi'i serta sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan lazimnya ulama terampil fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sama kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai sesuatu yang sunnah muakkadah adalah hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya dalam hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan guyur darinya kotoran (Maksudnya bercukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Titik lidah: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah rodi, namun sungguh bersifat tentu, karena tersedia sabdanya yang memalingkan mulai kewajiban adalah: “Barangsiapa diantara kalian terdapat yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, jadi silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Bubuk Dawud dan An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan saksi dusta yang memalingkan perintah yang pada dasarnya tetap menjadi sunnah.

Imam Malik berkata: Aqiqah itu sebagaimana layaknya nusuk (sembeliah kompensasi larangan haji) dan udhhiyah (kurban), gak boleh di aqiqah tersebut hewan yang picak, mersik, patah rangka, dan nyeri. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Dan harus dihindari dalam fauna aqiqah berikut cacat-cacat yang bukan diperbolehkan di dalam qurban.

Buraidah berkata: Lalu kami pada masa jahiliyah apabila salah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih wedus dan melumangkan kepalanya beserta darah wedus itu. Dipastikan setelah Sang pencipta mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, membabat (menggundul) kepala si momongan dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Debu Dawud bab 3, sesuatu. 107]

Atas ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang saat masa jahiliyah apabila tersebut ber’aqiqah untuk seorang budak, mereka mengotori kapas beserta darah ‘aqiqah, lalu ketika mencukur serabut si bocah mereka mencolekkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW bersabda, “Gantilah kadim itu secara minyak wangi”.[HR. Putri Hibban beserta tartib Rumpun Balban perkara 12, sesuatu. 124]

Pelaksanaan aqiqah pendapat kesepakatan para ulama merupakan hari ketujuh dari kemunculan. Hal berikut berdasarkan hadits Samirah pada mana Nabi SAW berkata, “Seorang budak terikat secara aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh serta diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan gak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Dan jika tidak juga, maka pada hari ke-21 atau masa saja ia mampu. Imam Malik mengatakan: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) buat dasar permintaan, maka sekiranya menyembelih di hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah ini telah sedang. Karena prinsip ajaran Agama islam adalah memudahkan bukan merunyamkan sebagaimana tutur Allah SWT: “Allah mengorek kemudahan bagimu dan bukan menghendaki pertengkaran bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Menunaikan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kemunculan, ini berlandaskan sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai beserta hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, serta diberi nama. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, serta dishahihkan sambil At Tirmidzi)

Dan bila tidak bisa melaksanakannya saat hari ketujuh, maka siap dilaksanakan dalam hari ke empat belas, dan bila tidak bisa, maka di dalam hari ke dua puluh satu, itu berdasarkan hadits Abdullah Rumpun Buraidah mulai ayahnya dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: “Hewan aqiqah itu disembelih saat hari ketujuh, ke empat belas, dan ke dua puluh tunggal. ” (Hadits hasan riwayat Al Baihaqiy)

Namun sehabis tiga ahad masih bukan mampu maka kapan saja pelaksanaannya dalam kala sudah mampu, karena pelaksanaan dalam hari-hari ke tujuh, di empat belas dan ke dua persepuluhan satu ialah sifatnya sunnah dan paling utama meski wajib. & boleh juga melaksanakannya sebelum hari di tujuh.

Balita yang meninggal dunia pra hari ketujuh disunnahkan pun untuk disembelihkan aqiqahnya, bahkan meskipun bocah yang keluron dengan tuntutan sudah berusia empat kamar di dalam kandungan ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada ayah si budak. Namun jikalau seseorang yang belum dalam sembelihkan hewan aqiqah sama orang tuanya hingga ia besar, jadi dia mampu menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan apabila tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri jadi hal tersebut tidak apa-apa menurut saya, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan dalam hari ketujuh dari kemunculan. Jika tidak bisa, dipastikan pada hari keempat belas. Dan jika tidak bisa lagi, maka di dalam hari ke-2 puluh satu. aqiqah bandung Selain itu, pelaksanaan aqiqah menjadi pikulan ayah.

Tapi demikian, apabila ternyata pada kecil ia belum diaqiqahi, ia siap melakukan aqiqah sendiri dalam saat mantap. Satu ketika al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah tatkala besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? ” Kepala Ahmad meningkah, “Menurutku, kalau ia belum diaqiqahi begitu kecil, dipastikan lebih baik melakukannya seorang diri saat gede. Aku tidak menganggapnya makruh”.

Para pengikut Imam Syafi’i juga berpendapat demikian. Dari sisi mereka, anak-anak yang sudah dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang2 tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Banyak Hewan

Jumlah hewan aqiqah minimal adalah satu ekor baik untuk laki-laki atau pun untuk perempuan, sesuai perkataan Rumpun Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan serta Husain wahid domba wahid domba. ” (Hadits shahih riwayat Bubuk Dawud & Ibnu Al Jarud)

Kalian harus tegak bahwa Lembut dan Husain adalah budak kembar. Oleh karena itu pada mono kelahiran itu disembelih dua ekor wedus.

Namun yang lebih tertinggi adalah dua ekor untuk anak laki-laki & 1 kontrol untuk keturunan perempuan bertolak pada hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW menitahkan agar dsembelihkan aqiqah atas anak laki-laki 2 ekor kambing dan dari anak dara satu termuda. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Kepala Ahmad serta Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yang artinya: “Nabi SAW memerintahkan mereka agar disembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki dua ekor sedia yang seimbang dan daripada anak dara satu upaya. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan secara ‘aqiqah

Yang berhubungan beserta sang anak

1. Disunnatkan untuk melepaskan nama & mencukur rambut (menggundul) saat hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir dalam hari Mono-, ‘aqiqahnya jatuh pada hari Sabtu.

2. Bagi anak laki-laki disunnatkan ber’aqiqah dengan 2 ekor kambing sedang bagi anak dara 1 ekor.

3. ‘Aqiqah ini bahkan dibebankan mendapatkan orang tua si anak, namun demikian boleh pula dilakukan sambil keluarga yang lain (kakek dan sebagainya).

4. Aqiqah itu hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Elok Mentah Atau Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan dalam kondisi sungguh dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor kibas untuk bani dan tunggal ekor kambing untuk bujang perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dikonsumsi (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Uci-uci aqiqah dikasih kepada tetangga dan fakir miskin juga bisa dikasih kepada orang2 non-muslim. Lagi pula jika sesuatu itu dimaksudkan untuk menarik simpatinya & dalam rangka dakwah. Dalilnya adalah firman Allah, “Mereka memberi membaham orang melarat, anak yatim, dan tawanan, dengan sanubari senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tahanan pada tatkala itu merupakan orang-orang ridah. Namun demikian, keluarga pun boleh membuang sebagiannya.

Yang berhubungan beserta binatang sembelihan

1. Di masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah wedus, tanpa menelaah apakah lelaki atau bini, sebagaimana sejarah di bawah ini:

Daripada Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebetulnya ia pernah bertanya menurut Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka tutur beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki dua ekor wedus dan untuk anak cewek satu ekor kambing. Bukan menyusahkanmu cantik kambing itu jantan maupun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan aku belum memperoleh dalil lainnya yang mengisyaratkan adanya hewan selain wedus yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Tenggat yang dituntunkan oleh Rasul SAW berdasarkan dalil yang shahih adalah pada hari ke-7 semenjak kelahiran bujang tersebut. [Lihat dalil riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian uci-uci Aqiqah

Adapun dagingnya dipastikan dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sekitar dagingnya, serta mensedekahkan sekitar lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan tidak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menjumput kerabat & tetangga untuk menyantap sasaran daging aqiqah yang sudah biasa matang. Syaikh Jibrin mengatakan: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga juga kepada umat islam, dan larat mengundang sobat-sobat dan macam untuk menyantapnya, atau mampu juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Ibnu Bazz mengatakan: Dan engkau bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya ataupun sebagiannya dan memasaknya lantas mengundang sosok yang tuan lihat terampil diundang atas kalangan moyang, tetangga, sohib2 seiman serta sebagian orang2 faqir untuk menyantapnya, & hal serupa dikatakan sambil Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Bani

Tidak diragukan lagi kalau ada hubungan antara maksud sebuah sebutan dengan yang diberi seri. Hal itu ditunjukan secara adanya sekitar nash syari yang memberitahukan hal itu.

Dari Serbuk Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam mudah-mudahan Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Sang pencipta mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 serta Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang mengindahkan sunah, ia akan memperoleh bahwa makna-makna yang tersembunyi dalam pamor berkaitan dengannya sehingga seakan-akan makna-makna ini diambil darinya dan serasa nama-nama itu diambil daripada makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui buah nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits di bawah itu:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Saya datang lawan Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu? ” Aku menjawab: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama rezeki bapakku” Putri Al-Musayyib berkata: “Orang ini senantiasa bersuara keras tentang kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, penamaan yang elok untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban orang tua. Di antara nama-nama yang baik yang ranggi diberikan ialah nama rasul penghulu zaman yaitu Muhammad. Sebagaimana bicara beliau: Mulai Jabir Ra dari Nabi SAW sira bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau memakai kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui cara pemberian nama yang baik dari sisi ajaran Islam, silahkan faksi:

Memberi Nama Bayi alias Anak Berdasar pada Islami


Memotong Rambut

Mencukur rambut adalah anjuran Rasul yang benar baik untuk dilaksanakan ketika anak yang baru mengembol pada hari ketujuh.

Dalam hadits Samirah disebutkan kalau Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak tersekat dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi identitas, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik memberitahukan bahwa Fatimah menimbang ukuran rambut Laksmi dan Husein lalu sira menyedekahkan galuh seberat serabut tersebut.

Tidak ada ketentuan apakah harus digundul atau gak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut harus dilakukan secara rata; tidak boleh cuma mencukur sekitar kepala dan sebagian yang lain dibiarkan. Pasti lah semakin banyak sabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- bertambah besar pun sedekahnya.

Seruan Menyembelih Fauna Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Artinya: Dengan sebutan Allah, sungguh Allah terimalah (kurban) mulai Muhammad & keluarga Muhammad serta mulai ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa budak baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Mempunyai: Aku berlindung untuk bujang ini secara kalimat Sang pencipta Yang Siap dari sekalian gangguan syaitan dan seloroh binatang juga gangguan sorotan mata yang dapat memapah akibat buruk bagi segala sesuatu yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Menurut Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di 1 buah situs mempunyai beberapa nasihat diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim PASAK tatkala Allah SWT menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Di aqiqah tersebut mengandung point perlindungan daripada syaitan yang dapat meranyau anak yang terlahir ini, dan ini sesuai dengan makna hadits, yang memiliki arti: “Setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Sehingga Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Yang mahakuasa lebih tersembunyi dari sindiran syaithan yang sering mengocok anak-anak. Hal inilah yang dimaksud oleh Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sama aqiqahnya”.

3. Aqiqah yakni tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak di dalam hari rekapitulas. Sebagaimana Imam Ahmad mengatakan: “Dia tergadai dari menurunkan Syafaat bagi kedua sosok tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan wujud taqarrub (pendekatan diri) menurut Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus sebagai wujud mencicip syukur untuk karunia yang dianugerahkan Tuhan Subhanahu wa Ta’ala beserta lahirnya si anak.

5. Aqiqah serupa sarana membuka rasa makmur dalam mengusahakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukmin yang hendak memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah menasihati ukhuwah (persaudaraan) diantara warga.

Dan tetap banyak lagi hikmah yang terkandung dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah tersebut.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin dan diringkas balik dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Bentala al-Bustoni, beserta judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Go Back

Comment